Monthly Archives: February 2013

Membuat Sebuah Buku Penelitian

Anjuran Pemerintah

  • —Buatlah PUBLIKASI ILMIAH yang baru
  • Berisi atau mempermasalahkan permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada satuan pendidikannya
  • —Sesuaikan dengan tugas guru yang bersangkutan

3 Bagian dalam Penelitian

1)Bagian Awal
  • —Halaman Judul
  • —Lembaran Persetujuan
  • —Kata Pengantar
  • Daftar Isi
  • Daftar Tabel
  • Daftar Gambar
  • Daftar Lampiran
  • Abstrak atau Ringkasan
2)Bagian Isi
  • —Bab Pendahuluan
  1. —Latar Belakang Masalah
  2. Perumusan Masalah
  3. Tujuan
  4. Kemanfaatan Hasil Penelitian
  • —Bab Kajian Teori/Tinjauan Pustaka
  • Bab Metode Penelitian
  • —Bab Hasil dan Diskusi Hasil Kajian
  • —Bab Kesimpulan dan Saran.
3)Bagian Penunjang
  • —Daftar pustaka
  • —lampiran-lampiran:
  1. Contoh hasil kerja siswa
  2. —Contoh isian instrumen
  3. Foto-foto kegiatan
  4. —Surat  ijin penelitian
  5. Rencana pembelajaran
  6. —Dokumen pelaksanaan penelitian lain yang menunjang keaslian penelitian tersebut.

Latar Belakang Masalah

  • —Latar belakang masalah harus jelas.
  • Latar belakang masalah penelitian harus dapat menunjukkan pentingnya hal yang dibahas dan hubungan masalah tersebut dengan upaya guru dalam mengembangkan profesinya.
  • Latar belakang masalah juga harus didukung oleh fakta spesifik yang berkaitan dengan masalah yang nyata terjadi di sekolah atau kelasnya.

Rumusan Masalah

  • —Rumusan masalah adalah apa sebenarnya yang akan diungkapkan pada penelitian Anda.
  • —Rumusan masalah harus benar-benar dapat menunjukkan variabel-variabel apa saja, dan bagaimana hubungan antar variablel tersebut yang akan dikaji dalam penelitian.
  • Rumusan masalah hendaknya mampu memberikan gambaran yang jelas apa sebenarnya yang akan dikaji pada penelitian tersebut.

Teori dan Metode Penelitian

  • —Kebenaran laporan hasil penelitian harus didukung oleh kebenaran teori, kebenaran fakta dan kebenaran analisisnya.
  • Kajian teori atau kajian hasil-hasil penelitian terdahulu hendaknya sesuai dengan variabel-variabel penelitian.
  • Metode penelitian, sampling dan analisis hasil harus dapat mendukung ketercapaian hasil penelitian.
—

Kewajiban Publikasi Ilmiah Guru

Berdasarkan peraturan menteri No. 16 Tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya dijelaskan bahwa Guru  Pertama  (dengan  pangkat  Penata  Muda  golongan ruang  III/a)  sampai  dengan  Guru  Utama  (dengan  pangkat  Pembina  Utama golongan ruang IV/e) wajib melaksanakan kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB), yaitu pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan/atau pengembangan karya inovatif

Apa yang dimaksud dengan publikasi ?

Publikasi ilmiah yang dimaksud dalam permen No. 16/2009 adalah:

•Publikasi  ilmiah  hasil  penelitian  atau  gagasan  inovatif  pada  bidang pendidikan formal
•Publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan pedoman guru
Berapa angka kredit yang harus didapat untuk naik golongan dari unsur publikasi ilmiah ?
•Gol. III/b   → Gol. III/c   = 4 (empat) angka kredit.
•Gol. III/c   → Gol. III/d   = 6 (enam) angka kredit.
•Gol. III/d   → Gol. IV/a   = 8 (delapan) angka kredit

Syarat tambahan, sekurang-kurangnya  mempunyai:

–(satu)  laporan  hasil  penelitian  dari  subunsur publikasi ilmiah.
•Gol. IV/a   → Gol. IV/b   = 12 (dua belas) angka kredit.

Syarat tambahan, sekurang-kurangnya  mempunyai:

–1 (satu) laporan hasil penelitian
–1 (satu) artikel yang dimuat di jurnal yang ber-ISSN.
•Gol. IV/b   → Gol. IV/c   = 12 (dua belas) angka kredit.

Syarat tambahan, sekurang-kurangnya  mempunyai:

o1 (satu) laporan hasil penelitian
o1 (satu) artikel yang dimuat di jurnal yang ber-ISSN.
•Gol. IV/c   → Gol. IV/d   = 14 (empat belas) angka kredit.

Syarat tambahan, sekurang-kurangnya  mempunyai:

o1 (satu) laporan hasil penelitian
o1 (satu) artikel yang dimuat di jurnal yang ber ISSN
o1 (satu) buku pelajaran atau buku pendidikan yang ber ISBN.
•Gol. IV/d   → Gol. IV/e   = 20 (dua puluh) angka kredit.

Syarat tambahan, sekurang-kurangnya  mempunyai:

o1 (satu) laporan hasil penelitian
o1 (satu) artikel yang dimuat di jurnal yang ber ISSN
o1 (satu) buku pelajaran atau buku pendidikan yang ber ISBN.
Besaran Angka Kredit untuk Karya yang dilakukan Secara Bersama
Jumlah yang Melakukan Kegiatan Pembagian Angka Kredit
Penulis Utama Penulis Pembantu I Penulis Pembantu II Penulis Pembantu III
2 orang 60% 40%
3 orang 50% 25% 25%
4 orang 40% 20% 20% 20%

Catatan:

o  Jumlah penulis pembantu paling banyak 3 (tiga) orang.
  Penulis pembantu keempat dan seterusnya tidak mendapat angka kredit
Apa saja jenis publikasi ilmiah dan berapa angka kreditnya?
1.Narasumber presentasi pada forum ilmiah jumlah kredit 0.2
2.Publikasi ilmiah berupa hasil penelitian atau gagasan ilmu bidang pendidikan formal.
•Buku (akan dijelaskan lebih lanjut kemudian).
•Artikel (penelitian) ilmiah, jumlah kredit 3 (nasional), kredit 2 (provinsi), kredit 1 (kabupaten)
3.Makalah laporan hasil penelitan, jumlah kredit 4
4.Makalah tinjauan ilmiah berupa karya tulis guru berisi gagasan untuk mengatasi masalah pendidikan formal dan pembelajaran disekolahnya, jumlah kredit 2
5.Tulisan ilmiah popular di media massa, jumlah kredit 2 (nasional), kredit 1.5 (provinsi)
6.Artikel ilmiah dalam bidang pendidikan, jumlah kredit 2 (nasional) kredit 1.5 (provinsi)
7.Modul/diktat pembelajaran per semester, jumlah kredit 1.5 (provinsi), kredit 1 (Kabupaten/Kota), kredit 0,5 (tingkat sekolah)
8.Karya Terjemahan. Dari bahasa asing ke bahasa Indonesia atau dari bahasa Indonesia ke bahasa asing/daerah. Jumlah kredit 1.
9.Buku Pedoman Guru. Berisi rencana kerja tahunan guru. Jumlah kredit 1,5.
Keterangan Tambahan
•Untuk kenaikan pangkat/golongan mulai III/d ke atas:
oJumlah publikasi yang berbentuk diktat, karya terjemahan, atau tulisan ilmiah populer paling banyak 3 (tiga) buah. Buku pedoman guru paling banyak 1 (satu) buah.
oUntuk penulisan laporan penelitian maksimal 2 laporan per tahun.
oUntuk   karya   inovatif   maksimal   50%   dari   angka   kredit   yang dibutuhkan.
Publikasi Ilmiah Harus APIK
•Asli, laporan yang dibuat benar-benar merupakan karya asli penyusunnya
•Perlu, hal yang dilaporkan atau gagasan yang dituliskan, harus sesuatu yang diperlukan dan   bermanfaat
•Ilmiah, laporan disajikan dengan memakai kerangka isi dan mempunyai  kebenaran  yang  sesuai  dengan  kaidah-kaidah kebenaran ilmiah.
•Konsisten, isi laporan harus sesuai dengan tugas pokok penyusunnya.
Buku dengan tema apa saja yang bisa dibuat dan berapa angka kreditnya ?
•Buku penelitian – Angka kredit 4 (empat)

Merupakan hasil penelitian di bidang pendidikan formal yang dilakukan guru, contoh, Penelitian Tindakan Kelas.

•Buku pelajaran – Angka kredit 3 (tiga)

Buku yang berisi pengetahuan untuk bidang ilmu atau mata pelajaran tertentu dan diperuntukkan bagi siswa pada suatu jenjang pendidikan tertentu atau sebagai bahan pegangan mengajar guru, baik sebagai buku utama atau buku pelengkap.

•Buku dalam bidang pendidikan – Angka kredit 3 (tiga)

Buku yang berisi pengetahuan terkait dengan  bidang kependidikan.

Apa syarat agar buku dapat mendapat angka kredit ?

•Sesuai dengan tema-tema yang ditentukan pemerintah.
•Memenuhi persyaratan “APIK”
•Memiliki ISBN atau mendapat pengakuan dari BNSP.
•Ada bukti fisik.
•Untuk buku penelitian ilmiah harus diedarkan secara nasional (dapat melalui surat keterangan dari Penerbit).

PGRI Dukung Penerapan Kurikulum 2013

Semarang — Para guru tak boleh terus menerus mengalami stigma terkait kualitasnya. Melalui Kurikulum 2013 dimana para guru selaku pelaksananya niscaya bisa menghilangkan stigma tersebut. Mendikbud Mohammad Nuh menyampaikan hal itu dalam sosialisasi Kurikulum 2013 atas undangan IKIP PGRI Semarang, 23 Februari 2013 di Semarang.

Mantan Rektor ITS ini menjelaskan, ada empat standar yang diperbaiki dalam Kurikulum 2013, yaitu standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar evaluasi. “Dengan melaksanakan empat standar ini, bukan hanya kualitas guru yang akan meningkat tetapi juga kualitas peserta didik” kata Menteri Nuh.

Dalam kesempatan ini, Ketua Umum PGRI Sulistiyo, meminta para guru di lingkungan PGRI siap mengikuti pelatihan, siap melaksanakan, dan siap mengubah pola pembelajaran sesuai semangat Kurikulum 2013. “Menuju pendidikan yang lebih baik,” ujarnya.

Dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Gubernur Jawa Tengah, menilai Kurikulum 2013 sudah disusun dengan seksama. Kurikulum ini merupakan respon terhadap perkembangan teknologi dan informasi yang berkembang pesat. Pemerintah Propinsi mendukung dan siap melaksanakan Kurikulum 2013 sekaligus mengharapkan Kemdikbud menyiapkan semua perangkatnya seperti buku dan pelatihan guru.

Pengurus PGRI Propinsi Jateng, Subagyo Brotosedjati, menyatakan PGRI mendukung penerapan Kurikulum 2013. Selaku ketua pelaksana melaporkan peserta sosialisasi terdiri dari 1000 orang dengan peserta terbanyak kepala sekolah di lingkingn PGRI se-Jawa Tengah. (IH)

 

 

Kurikulum 2013 Mengatasi Kegersangan Budaya

Kabupaten Banyuwangi— Desain kurikulum 2013 tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja, tetapi juga untuk mengatasi kegersangan budaya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengatakan, kegersangan budaya antara lain tampak dari lontaran-lontaran pernyataan kasar yang tidak berdasar.

Perilaku tidak berbudaya itu, kata dia, ada pada kehidupan sehari-hari. “Kurikulum 2013 justru didesain untuk mengatasi kegersangan budaya,” katanya usai meresmikan penegerian Politeknik Banyuwangi di Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (24/02/2013).

Karena itu pulalah, lanjut Mendikbud, pendidikan seni budaya juga tetap ada dalam kurikulum 2013. Filosofinya tidak pada keseragaman budaya (cultural uniformity), tetapi keberagaman budaya (cultural diversity).

Menteri Nuh menegaskan, salah satu alasan dikembangkannya kurikulum 2013 adalah perbaikan sikap. Banyak pihak, kata dia, yang memberi masukan bahwa pendidikan tidak boleh menekankan pada hafalan, tetapi harus bisa membentuk sikap.

Karena itulah, lanjut dia, standar kompetensi lulusan dalam kurikulum 2013 adalah peningkatan dan keseimbangan kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. “Untuk memastikan hal itu terpenuhi maka setiap mata pelajaran mesti dikaitkan dengan pembentukan sikap,” jelasnya.

Menurutnya, pembentukan sikap tidak hanya bisa dilakukan melalui mata pelajaran agama, tetapi juga melalui mata pelajaran lainnya. ”Kompetensi dasar setiap mata pelajaran bisa dikaitkan dengan pembentukan sikap,” katanya.

Mata pelajaran agama sendiri, kata Menteri Nuh, mengalami penambahan materi. Untuk substansi, ditambah dengan materi budi pekerti, sehingga namanya menjadi Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Adapun jumlah jam belajar juga ditambah. Pada jenjang sekolah dasar (SD), yang semula dua jam ditambah menjadi empat jam pelajaran.

Sementara pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA), menjadi tiga jam dari semula dua jam pelajaran. “Pendekatannya pun diarahkan pada kehidupan keagamaan yang toleran dan kasih sayang bagi semuanya atau rahmatan lil-alamin. Jauh dari mencetak tukang saja,” kata Mendikbud kepada sejumlah wartawan, yang mengkonfirmasinya mengenai isu rendahnya aspek nilai dalam kurikulum 2013. (IH).

Sumber : http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/berita/1077

Struktur Kurikulum 2013

Dalam teori kurikulum (Anita Lie, 2012) keberhasilan suatu kurikulum merupakan proses panjang, mulai dari kristalisasi berbagai gagasan dan konsep ideal tentang pendidikan, perumusan desain kurikulum, persiapan pendidik dan tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana, tata kelola pelaksanaan kurikulum –termasuk pembelajaran– dan penilaian pembelajaran dan kurikulum.

Struktur kurikulum dalam hal perumusan desain kurikulum, menjadi amat penting. Karena begitu struktur yang disiapkan tidak mengarah sekaligus menopang pada apa yang ingin dicapai dalam kurikulum, maka bisa dipastikan implementasinya pun akan kedodoran.



Pada titik inilah, maka penyampaian struktur kurikulum dalam uji publik ini menjadi penting. Tabel 1 menunjukkan dasar pemikiran perancangan struktur kurikulum SD, minimal ada sebelas item. Sementara dalam rancangan struktur kurikulum SD ada tiga alternatif yang di mesti kita berikan masukan.