Category Archives: artikel pendidikan

Fungsi Kutipan

KUTIPAN

Kutipan adalah gagasan, ide, pendapat yang diambil dari berbagai sumber. Proses pengambilan gagasan itu disebut mengutip. Gagasan itu bisa diambil dari kamus, ensiklopedi, artikel, laporan, buku, majalah, internet, dan lain sebagainya.

 

Fungsi Kutipan

  1. Aman dari masalah plagiat
  2. Membantu pembaca yang ingin memahami lebih lanjut pada ide Anda.
  3. Tidak semua sumber itu baik atau benar. Ide Anda mungkin lebih baik atau menarik dari sumber-sumber tersebut. Kutipan yang tepat akan mengamankan Anda pada ide orang lain yang salah.
  4. Sumber kutipan memperlihatkan gengsi muatan tulisan Anda.
  5. Menguatkan tulisan Anda dengan mengijinkan orang lain mendukung Anda.

 

KapanKutipanDigunakan

  1. Saat Anda menggunakan kalimat yang persis sama dengan buku (sumber) lain.
  2. Saat Anda melakukan para phrase.
  3. Saat Anda menggunakan ide orang lain yang telah diungkapkan.
  4. Saat Anda merujuk pada hasil kerja orang lain.
  5. Saat karya orang lain sangat membantu mengembangkan ide Anda.

 

Penulisan sumber kutipan ada yang menggunakan pola Harvard, ada pula yang menggunakan pola konvensional atau catatan kaki (footnote). Sekarang Anda akan mempelajari pencantuman kutipan dengan pola Harvard.

Cara Menulis Kutipan Dengan Benar

Penulisan dan pencantuman kutipan dengan pola Harvard ditandai dengan menuliskan nama belakang pengarang, tahun terbit, dan halaman buku yang dikutip di awal atau di akhir kutipan. Data lengkap sumber yang dikutip itu dicantumkan pada daftar pustaka. Ada dua cara dalam mengutip, yakni langsung dan tidak langsung. Kutipan langsung adalah mengutip sesuai dengan sumber aslinya, artinya kalimat-kalimat tidak ada yang diubah. Disebut kutipan tidak langsung jika mengutip dengan cara meringkas kalimat dari sumber aslinya, namun tidak menghilangkan gagasan asli dari sumber tersebut.

 

Dua Macam Kutipan

 

  1. 1.      Kutipan Langsung
  • Argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara (Keraf, 1983: 3). 
  • Menurut Gorys Keraf dalam bukunya Argumentasi dan Narasi (1983:3), argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara. 
  • Argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara

 

  1. 2.      Contoh kutipan Tidak Langsung
  • Seperti dikatakan oleh Gorys Keraf (1983:3) bahwa argumentasi pada dasarnya tulisan yang bertujuan mempengaruhi keyakinan pembaca agar yakin akan pendapat penulis bahkan mau melakukan apa yang dikatakan penulis. 
  • Argumentasi pada dasarnya tulisan yang bertujuan mempengaruhi keyakinan pembaca agar yakin akan pendapat penulis bahkan mau melakukan apa yang dikatakan penulis (Keraf, 1983:3). 
  • Argumentasi pada dasarnya tulisan yang bertujuan mempengaruhi keyakinan pembaca agar yakin akan pendapat penulis bahkan mau melakukan apa yang dikatakan penulis1).

 

Seperti halnya penulisan data, penulisan kutipan (referensi) ini juga harus menyebutkan sumber kutipan tersebut. Seperti contoh di atas menyebutkan bahwa sumber diambil dari buku karangan Gorys Keraf, yang terbit pada tahun 1983, dan sumber tersebut terdapat di halaman 3. Informasi mengenai penerbit dan judul buku dapat dilihat di Daftar Pustaka atau Bibliografi. Pada contoh terakhir hanya ditulis angka 1, menyatakan bahwa keterangan sumber dicantumkan di bawah halaman yang disebut dengan catatan kaki.

 

Sumber: E BahasadanSastra Indonesia Untuk SMA/MA Kelas X, karangan Sri Utami, Sugiarti, Suroto, Alexander Sosa (Terimakasih Yang SebesarBesarnya)

 

Menghitung Royalti

ROYALTI

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, royalti adalah imbalan atau uang jasa yang dibayar oleh penerbit kepada pengarang untuk setiap buku yang diterbitkan. Pada praktiknya kata royalti tidak hanya digunakan dalam industri perbukuan saja, tetapi juga digunakan dalam industri musik, film, dan industri kreatif lainnya.

Sistem royalti dalam dunia buku memang sejak lama telah digunakan karena bagi pihak penerbit maupun penulis sistem ini sangat fair/adil. Royalti diberikan secara berkala di setiap tahunnya, ada yang dua kali atau tiga kali per tahunnya. Yang menjadi permasalah kemudian adalah berapa besaran royalti yang adil? Semua penulis tentu saja menginginkan besaran royalti yang besar, tetapi sebaliknya dengan penerbit. Besaran royalti yang beredar saat ini umumnya adalah 10% dari harga bruto atau harga jual sebelum diskon. Ada juga yang memberikan 7% dari harga bruto dan ada juga yang memberikan 15% dari harga nett (harga yang dibayarkan pembeli).

Umumnya para penulis baru sering melihat bahwa besaran royalti yang mereka dapatkan masih kurang. Mereka menganggap 10% adalah angka yang masih bisa dinaikkan kembali. Akan tetapi, karena masih baru, kebanyakan para penulis tersebut tidak memperhitungkan besaran modal yang dikeluarkan oleh penerbit untuk memproduksi sebuah buku.

Agar sebuah buku sampai ke tangan pembeli, sebuah penerbit harus melalui dua fase besar yang menguras biaya. Pertama adalah proses mencetak buku. Kedua adalah proses distribusi buku. Setelah buku dicetak, agar buku sampai ke sebuah toko buku maka penerbit menggunakan jasa distributor buku. Sebuah penerbit tidak bisa langsung mengirim bukunya ke toko-toko buku yang diinginkannya. Beberapa faktor yang membuat penerbit tidak dapat/mau langsung memberikan buku mereka ke toko buku adalah:

  1. Efisiensi biaya dan waktu, bisa dibayangkan andai toko bukunya berada di luar daerah
  2. Toko buku tidak mengijinkan penerbit langsung masuk ke toko buku karena nantinya terlalu banyak penerbit yang langsung ke toko buku dan merepotkan mereka, terutama masalah administrasi.

Untuk biaya distribusi umumnya mengambil porsi 60% dari harga bruto buku. Kemudian, untuk biaya cetak umumnya membutuhkan 20% dari harga buku. Sehingga hanya tersisa 20% yang harus dibagi antara penerbit dan penulis. Perlu diketahui penerbit juga harus membayar pegawai dan keperluan kantor lainnya. Oleh sebab itu, angka royalti 10% dianggap, baik oleh penerbit maupun penulis, sebagai angka yang cukup “nyaman”.

Penerbit Media Guru memberikan besaran royalti 10% dari harga bruto. Royalti tersebut dibayarkan pada bulan April dan Oktober.

Prinsip Menulis Karya Ilmiah

PRINSIP-PRINSIP PENULISAN KARYA ILMIAH

 

Prinsip-prinsip menulis karya ilmiah terbagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Etika dalam penulisan karya ilmiah
  2. Proses berpikir ilmiah
  3. Syarat-syarat karya ilmiah

 

  1. 1.       Etika dalam penulisan karya ilmiah
    1. Akurat dalam menulis
    2. Jujur dalam menulis
    3. Menjunjung tinggi tanggung jawab, kerjakan sesuai deadline
    4. Tidak boleh mengubah fakta dengan dugaan
    5. Tidak boleh menyembunyikan kebenaran dengan menggunakan ambiguitas
    6. Tidak boleh menggunakan ide orang lain tanpa memberikan keterangan secara jelas
    7. Tidak boleh melanggar hak cipta
    8. Tidak memanipulasi data atau grafik
    9. Tidak memasukkan dugaan pribadi dalam laporan

 

  1. 2.       Proses berpikir ilmiah
    1. Berpikir deduktif

Menarik kesimpulan dari pernyataan umum menuju pernyataan-pernyataan khusus dengan menggunakan penalaran atas rasio. Hasil berpikir deduktif dapat digunakan untuk menyusun hipotesis.

  1. Berpikir induktif

Mengambil kesimpulan dimulai dari pernyataan-pernyataan atau fakta-fakta khusus menuju kesimpulan yang bersifat umum.enarik kesimpulan umum dari data khusus berdasarkan pengamatan tidak menggunakan rasio atau penalaran tetapi menggunakan cara lain, yakni menggeneralisasikan fakta melalui statistik.

  1. Berpikir ilmiah

Gabungan deduktif dan induktif. Hipotesis didapat dari teori,kemudian diuji melalui verifikasi data secara empiris. Langkah-langkahnya ialah:

  • Merumuskan masalah, yakni mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab. Pertanyaan yang diajukan hendaknya mengandung banyak kemungkinan jawabannya.
  • Mengajukan hipotesis, yakni jawaban sementara atau dugaan jawaban dari pertanyaan di atas. Hipotesis diturunkan dari kajian teoritis penalaran deduktif.
  • Verifikasi data, mengumpulkan data secara empiris kemudian mengolah dan menganalisis data ntuk menguji benar tidaknya hipotesis.
  • Menarik kesimpulan, menentukan jawaban-jawaban definitive dari setiap masalah yang diajukan atas dasar pembuktian atau pengujian secara empiris.

 

  1. 3.       Syarat-syarat karya ilmiah
    1. Berdasarkan hasil penelitian
    2. Pembahasan bersifat obyektif sesuai dengan fakta
    3. Mengandung masalah yang sedang dicarikan pemecahannya.
    4. Penyajian dan pemecahan masalah menggunakan metode tertentu.
    5. Bahasa yang digunakan lengkap, terperinci, teratur, dan cermat.
    6. Bahasa yang digunakan harus jelas dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahan penafsiran

 

Oleh sebab itu, seorang peneliti haruslah:

  1. Memahami masalah yang sedang diteliti
  2. Memahami metode penelitian yang digunakan
  3. Mengetahui cara teknik menulis karangan ilmiah
  4. Menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar

 

Tahap-Tahap Penulisan Karya Ilmiah

  1. Tahap persiapan
    1. Pemilihan topic/masalah dan merumuskan masalah penelitian yang didefinisikan dengan jelas keluasan dan kedalamannya.
    2. Studi pustaka untuk melihat apakah sudah ada penelitian serupa yang pernah dilakukan
    3. Merumuskan hipotesis. Hipotesis adalah dugaan sementara tentang suatu fenomena tertentu yang akan diteliti.
    4. Pembuatan kerangka penulisan.
    5. Tahap pengumpulan data

Langkah pertama yang harus ditempuh dalam pengumpulan data adalah mencari informasi dari kepustakaan mengenai hal-hal yang ada relevansinya dengan judul garapan, disamping itu penyusun juga dapat memulai terjun ke lapangan.

  1. Tahapan pengorganisasian

Data yang sudah terkumpul diseleksi dan diorganisir, dan digolongkan menurut jenis, sifat dan bentuknya. Data diolah dan dianalisis dengan teknik-teknik yang sudah ditentukan. Jika penelitian bersifat kuantitatif, data diolah dan dianlisis dengan teknik statistik.

  1. Tahap penyuntingan

Disini konsep diperiksa mencakup pemeriksaan isi karya ilmiahnya, cara penyajian dan bahasa yang digunakan.

  1. Tahap penyajikan/pelaporan

Dalam mengetik naskah hendaknya diperhatikan segi kerapihan dan kebersihan, perhatikan juga tata letak unsure-unsur dalam karya ilmiah, baik di kulit luar maupun di dalam (dafta isi, daftar pustaka, dll).

 

Kesalahan-Kesalhan Umum dalam Menulis Ilmiah

  1. Menulis kalimat yang tidak utuh
  2. Menulis kalimat yang rancu
  3. Kesalahan urutan kata
  4. Kesalahan pemakaian kata dan ungkapan penghubung
  5. Kesalahan pemakaian kata depan
  6. Kesalahan pemakaian bentuk kata
  7. Kesalahan penyerapan istilah

 

Mengubah Karya Ilmiah Menjadi Buku

DARI KARYA ILMIAH MENJADI SEBUAH BUKU

 

 

Perbedaan utama antara karya ilmiah dan buku adalah:

 

  Karya Ilmiah Buku
Bentuk Mirip buku Buku
Ketebalan Sering berada di batas terbawah, jarang berada di batas ketebalan tertinggi Terbatas pada permintaan pasar
Penulis Peneliti Penulis (yang memiliki kewajiban menjelaskan kepada pembaca)
– tujuan Untuk membuktikan kompetensi akademis Untuk mengkomunikasikan ide
Pembaca Penguji Civitas akademika dan orang-orang yang tertarik pada subjek.
– tujuan Untuk menguji peneliti Belajar dan mempelajari
Fokus belajar pada Penulis Pembaca
Keilmuan Membutuhkan penjelasan Diserap dan dibangun
– peran Mendemonstrasikan pengetahuan Membangun diskusi
Pendekatan Penjelasan untuk pembelaan Membuka diskusi
Pengelolaan subjek Umumnya sangat teknis dan rinci Menghindari rincian teknis yang tidak perlu
Bahasa Cenderung kurang jelas, abstrak, dan banyak jargon Jelas dan bijaksana dalam menggunakan istilah teknis saat dibutuhkan
Struktur Cenderung terus menerus formal Lebih alami (mengalir), bentuk menjelaskan atau menguraikan.
Alur penjelasan isi Eksposisi teratur tetapi tidak membangun argumen; sering terlalu mengarahkan Membangun argumentasi, menghubungkan bab demi bab secara halus; memiliki kecepatan dan momentum
Penutup Sering berakhir dengan tiba-tiba Diakhiri dengan kesimpulan
Metodologi Membutuhkan penjelasan rinci Deskirpsi hanya diberikan jika dan saat relevan
Kutipan Penting dan sering panjang lebar Terbatas penggunaannya
Referensi Sering kali lebih banyak dari yang benar-benar diperlukan Hanya yang perlu- perlu saja
Evaluasi Umpan balik dari supervisor, penilaian akhir oleh panel penguji Penilaian komersil dari penerbit, tanggapan ahli lain dan masukan dari editor
– sebelum
– sesudah Mempertahankan secara formal Tanggapan ahli lain dalam jurnal dan forum eksternal lain

 

Ada beberapa orang yang menyatakan bahwa sebuah karya ilmiah tidak boleh ditulis ulang menjadi buku. Alasannya adalah karya ilmiah dan buku sangat jauh berbeda. Apabila sebuah karya ilmiah dipaksakan diubah menjadi buku maka penyusunannya harus dilakukan dari awal lagi.

Pendapat tersebut dapat dibenarkan untuk beberapa karya ilmiah tertentu, tetapi ada banyak kasus ketika sebuah karya ilmiah sudah memiliki bibit naskah buku (umumnya tersembunyi di suatu tempat di tengah bab) yang dapat dibawa keluar dan diperluas. Perlu diketahui, meskipun, jika Anda memutuskan untuk untuk mengubah karya ilmiah menjadi buku dengan menata ulang bahan yang ada, mempercantik dengan mencari data dan kesimpulan baru maka hal tersebut dapat memakan waktu yang hampir sama seperti menulis naskah baru dari awal.

Tentu saja, ada bahaya dalam menggunakan kembalidata yang ada, terutama ketika menambal potongan-potongan yang berbeda dari teks, hal ini dapat membahayakan konsistensi dan gagal untuk menciptakan isi dan alur cerita yang koheren dengan karya ilmiah. Meskipun demikian, pasti akan ada godaan untuk tetap menggunakan teks yang lama setelah Anda membacanya berulang kali dan menganggap teks tersebut cocok untuk dimasukkan dalam buku.

 

Mari Memulai

Merencanakan dengan mempersiapkan sebuah daftar isi perbandingan. Jika Anda ingin menulis buku yang berasal dari karya ilmiah, maka sangat berguna (bukan hanya sebagai perencanaan tetapi juga akan berguna untuk melakukan pendekatan ke penerbit) jika Anda memetakan persamaan dan perbedaan antara dua karya (naskah buku dan karya ilmiah). Berdasarkan analisis tersebut, Anda akan dapat menyusun sebuah daftar isi yang dapat menggambarkan isi dan darimana bahan isi tersebut diambil (dari karya ilmiah)

 

Bagian-bagian yang harus dipotong

Ada banyak elemen dalam karya ilmiah yang tidak perlu ada pada buku. Pangkas dan sisakan hanya bagian yang dibutuhkan saja, atau bahkan hancurkan semuanya. Editing semacam ini bukan seperti pekerjaan tukang daging. Editing bisa dianalogikan sebagai sebuah pekerjaan mengolah berlian kasar dengan dipotong secara hati-hati, lalu dipoles hingga dapat terungkap dalam kemuliaan penuh.

  1. Tinjauan Pustaka

Penelitian Anda termasuk dalam wacana keilmuan tertentu dan akan dibingkai oleh ini. Sebagaimana anggapan Anda bahwa pembaca sudah akrab dengan wacana tersebut, maka ringankan bobot teori dan dan tunjukkan bagaimana penelitian Anda memberikan sebuah warna baru dan menambah perdebatan. Tentu saja, tidak mungkin bahwa sebuah buku dengan tinjauan pustaka sebanyak 100 halaman akan membuat menarik.

  1. Metodelogi

Pembaca ingin mengetahui secara jelas tentang penelitian Anda untuk menguji validitas penjelasan yang Anda berikan. Akan tetapi, tidak akan ada orang yang tertarik pada rincian yang tidak penting dalam metodelogi Anda.

  1. Kutipan

Mendukung penjelasan dengan kata-kata dari para ahli adalah sesuatu yang wajar, tetapi lakukan hal ini dengan bijaksana dan elegan. Sebuah parafrase akan lebih mudah dibaca dan dimengerti daripada sebuah kutipan langsung. Jika Anda memiliki banyak kutipan langsung dalam karya ilmiah Anda, cobalah untuk menghilangkan sebagian besarnya dalam buku Anda.

  1. Tabel

Ingatlah bahwa setiap tabel dalam menjadi pengalih perhatian. Tabel akan membuat pembaca menjauh pada teks. Pada setiap tabel, tanyakan pada diri Anda, “Apakah ini penting? Apakah bisa diringkas dan diolah menjadi sebuah teks? Apakah akan lebih efektif jika dijadikan gambar? Dapatkah tabel ini muat dalam kertas ukuran buku?”

  1. Footnotes/endnotes

Ini juga merupakan sebuah pengalih perhatian. Untuk setiap footnote/endnote, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah ini perlu? Dapatkah kutipan dikelompokkan atau bahkan (untuk beberapa kutipan dalam buku yang sama) runtuh menjadi kutipan tunggal? Dapatkah Anda mengurangi jumlah karya yang dikutip?”

  1. Referensi

Berapa banyak orang yang benar-benar membaca bibliografi – selain untuk memeriksa apakah ada tulisan mereka sendiri terdaftar? Memotong daftar referensi hingga hanya untuk yang benar-benar relevan dengan buku baru Anda akan akan menghemat waktu dan usaha Anda. Akan tetapi, nilai akademik (juga) diukur dengan jumlah kutipan karya yang dibaca, jadi tinggalkan saja referensi yang Anda rasa cukup digunakan dalam karya ilmiah Anda.

  1. Lampiran

Banyak diperdebatkan bahwa lampiran adalah bahan-bahanyang tidak dapat diolah dan dibiarkan membusuk. Jika Anda tidak dapat mengintegrasikan materi tersebut dalam karya ilmiah Anda, maka Anda perlu berusaha keras agar dapat menggunakannya dalam buku Anda.

  1. Bahan (data) yang berlebihan

Beberapa teks dalam karya ilmiah Anda mungkin sangat baik,tetapi terlalu panjang atau terlalu jauh dari topik untuk dimasukkan dalam naskah buku Anda. Teks yang kelebihan tersebut harus dipadatkan, ditulis ulang atau benar-benar dibuang. Hasilnya yang didapat bukan berarti kehilangan banyak data.

  1. Materi (data) bermasalah

Mungkin ada berbagai alasan mengapa bahan yang digunakan dalam karya ilmiah Anda bermasalah dalam naskah buku Anda (misalkan, salinan langsung sebuah gambar peta dari buku penulis lain). Mungkin akan mudah atau lebih tepat untuk mengolah kembali atau memotongnya daripada daripada meminta izin menggunakannya dan tidak melakukan perubahan terhadap data. Contoh lain adalah teks yang berpotensi mencemarkan nama baik, hal ini dapat bermasalah bagi setiap penerbit. Apapun alasannya, telitilah dan perhatikan dengan seksama data tersebut dan kondisikan hal tersebut dengan baik, jangan sampai data tersebut akan menimbulkan masalah setelah buku Anda diterbikan.

  1. Gaya menulis

Yang paling sulit bukanlah menghilangkan kalimat-kalimat dalam karya ilmiah Anda, tetapi mengubah gaya menulisnya adalah yang paling sukar. Sebagai contoh bahasa yang tidak jelas, abstrak, dan banyak menggunakan jargon (istilah-istilah pada bidang tertentu), penjelasan yang sangat teknis dan terlalu rinci,

 

Bagian-bagian yang perlu Anda tambahkan

Jika, seperti di banyak kasus, kontribusi karya ilmiah terhadap ilmu pengetahuan yang Anda geluti terlihat signifikan di bab-bab pertengahan, Anda tidak dapat begitu saja menghilangkan data-data yang lain, tetap saja Anda harus menambahkan data.

  1. Koherensi

Buku Anda akan perlu memiliki kesatuan isi, yang diselenggarakan bersama dengan benang narasi yang jelas. Ada nilai ganda jika Anda melakukan hal ini. Dengan menelusuri lintasan argumen Anda, Anda akan segera melihat jika ada bahan (data) lain yang hilang (dan bahan yang masih harus dipotong).

  1. Latar Belakang materi

Banyak karya ilmiahyang memiliki latar belakang materi terlalu banyak tapi kadang-kadang – karena para penguji adalah ahli di bidang tersebut – peneliti akan berasumsi bahwa si penguji akan memahami latar belakang tersebut. Akan tetapi, pada sebuah buku tentu saja berbeda karena pembaca belum tentu seorang ahli di bidang subjek buku. Yang dibutuhkan adalah bahan latar belakang yang cukup agar mampu mengarahkan pembaca dan mempersiapkan mereka untuk “menyantap” tulisan hasil penelitian Anda.

  1. Bahan data baru

Masalah yang paling umum ditemui dalam karya ilmiah adalah terlalu banyak data. Akan tetapi, jika Anda mencoba memfokuskan kembali penelitian tersebut maka akan muncul celah kosong dan celah itu harus dipenuhi. Demikian juga, subjek Anda tidak mungkin statis, melainkan akan perlu diperbarui untuk mengambil kejadian (data) terbaru, publikasi, dan lainnya.

  1. Pendahuluan

Kebanyakan pendahuluan di dalam karya ilmiah  agak menjemukan dan kurang menarik, sedangkan buku harus bisa memberikan pendahuluan singkat yang mampu merangsang nafsu para pembaca untuk menikmati tulisan Anda.

  1. Kesimpulan

Banyak karya ilmiahyang berakhir sederhana dan tidak menarik. Karya ilmiah tersebut gagal untuk menarik benang merah dari semua penjelasan menjadi satu kesatuan yang koheren dan memuaskan. Di sebuah naskah buku, Anda harus mampu menulis ulang kesimpulan Anda untuk membuatnya up to date dan mencerminkan perubahan karakter dan fokus pada penelitian Anda.

 

  1. Indeks

Sebuah indeks tidak diperlukan sampai buku Anda dalam produksi, tetapi di awal-awal silakan untuk mulai memikirkannya. Pemikiran tersebut berguna karena indeks adalah ‘peta pikiran’ penelitian Anda, setelah Anda mulai menuliskan berbagai masukan dan subentries untuk dimasukkan, Anda dapat dengan cepat menemukan hal-hal yang mungkin hilang dalam tulisan Anda.

 

Golongan dan Angka Kredit

Kenaikan Golongan dan Angka Kredit dari Publikasi Ilmiah atau Karya Tulis Ilmiah

Jenjang jabatan seorang guru ditentukan dari angka kredit yang mereka telah raih, inilah yang disebut jabatan fungsional. Banyak orang yang menganggap peraturan fungsional ini terkesan lebih fair daripada jabatan struktural. Jabatan fungsional juga mampu menekan praktik korupsi karena kenaikan jabatan berkaitan dengan penilaian obyektif berdasarkan data sedangkan jabatan struktural lebih bersifat subyektif. Akan tetapi, jabatan struktural, bagaimanapun juga, memiliki kelebihan dibanding jabatan fungsional. Jabatan struktural membuat seorang atasan dapat memilih bawahannya atau seseorang yang dianggap dapat bekerjasama dengannya sehingga pekerjaan memiliki tingkat kesuksesan maksimal.

Berikut adalah jumlah angka kredit kumulatif minimal untuk pengangkatan dan kenaikan jabatan/pangkat guru dengan pendidikan sarjana (S1).

No

Unsur

Pct

Jenjang Jabatan/Golongan Ruang dan Angka Kredit

Pertama

Muda

Madya

Utama

III/a

III/b

III/c

III/d

IV/a

IV/b

IV/c

IV/d

IVe

1 Unsur Utama

  1. Pendidikan
  2. Mengikuti pendidikan dan memperoleh gelar/ijazah

100

100

100

100

100

100

100

100

100

  1.  Mengikuti pelatihan prajabatan
  2. Pembelajaran/bimbingan dan tugas tertentu
  3. Melaksanakan proses pembelajaran
  4. Melaksanakan proses bimbingan
  5. Melaksanakan tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah
  6. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
  7. Melaksanakan pengembangan diri
  8. 2.       Melaksanakan publikasi ilmiah
  9. Melaksanakan karya inovativ

≤90%

45

90

180

270

405

540

675

855

2 Unsur Penunjang

  1. Memperoleh gelar/ijazah yang tidak sesuai dengan bidang yang diampunya
  2. Melaksanakan kegiatan yang mendukung tugas guru

≥10%

5

10

20

30

45

60

75

95

  Jumlah

100

150

200

300

400

550

700

850

1050

 

 

Angka kredit minimal yang harus diraih guru untuk naik golongan dari unsur publikasi ilmiah adalah:

Kenaikan Gol.

Angka kredit minimal

Syarat tambahan

Gol. III/b  →  Gol. III/c

4

Gol. III/c  →  Gol. III/d

6

Gol. III/d  →  Gol. IV/a

8

Sekurang-kurangnya  mempunyai 1 (satu) laporan  hasil  penelitian  dari  subunsur publikasi ilmiah.
Gol. IV/a  →  Gol. IV/b

12

Sekurang-kurangnya  mempunyai:

  • 1 (satu) laporan hasil penelitian
  • 1 (satu) artikel yang dimuat di jurnal yang ber-ISSN.
Gol. IV/b  →  Gol. IV/c

12

Sekurang-kurangnya  mempunyai:

  • 1 (satu) laporan hasil penelitian
  • 1 (satu) artikel yang dimuat di jurnal yang ber-ISSN.
Gol. IV/c  →  Gol. IV/d

14

Sekurang-kurangnya  mempunyai:

  • 1 (satu) laporan hasil penelitian
  • 1 (satu) artikel yang dimuat di jurnal yang ber ISSN
Gol. IV/d  →  Gol. IV/e

20

Sekurang-kurangnya  mempunyai:

  • 1 (satu) laporan hasil penelitian
  • 1 (satu) artikel yang dimuat di jurnal yang ber ISSN
  • 1 (satu) buku pelajaran atau buku pendidikan yang ber ISBN.

 

Besaran Angka Kredit untuk Karya yang dilakukan Secara Bersama

Jumlah yang Melakukan Kegiatan

Pembagian Angka Kredit

Penulis Utama

Penulis Pembantu I

Penulis Pembantu II

Penulis Pembantu III

2 orang

60%

40%

3 orang

50%

25%

25%

4 orang

40%

20%

20%

20%

 

Buku Pelajaran

BUKU PELAJARAN

 

Buku pelajaran adalah buku berisi pengetahuan untuk bidang ilmu atau mata pelajaran tertentu dan diperuntukkan bagi siswa pada suatu jenjang pendidikan tertentu atau sebagai bahan pegangan mengajar guru, baik sebagai buku utama atau buku pelengkap.

Angka kredit

a) Buku pelajaran yang lolos penilaian oleh BSNP, besaran angka kredit 6.

b) Buku pelajaran yang dicetak oleh penerbit dan ber ISBN, besaran angka kredit 3.

c) Buku pelajaran yang dicetak oleh penerbit tetapi belum ber ISBN, besaran angka kredit 1.

 

Bagian-Bagian Buku Pelajaran

  1. Bagian Pendahuluan, berisi:
    1. Daftar isi
    2. Tujuan buku pelajaran
    3. Bagian Isi, berisi:
      1. Judul bab atau topik isi bahasan
      2. Penjelasan tujuan bab
      3. Bagan isi bab (optional)
      4. Uraian isi pelajaran
      5. Penjelasan teori
      6. Sajian contoh
      7. Soal latihan
      8. Bagian Penunjang, berisi:
        1. Daftar pustaka
        2. Data diri penulis

 

 

Buku Laporan Hasil Penelitian

BUKU LAPORAN HASIL PENELITIAN

 

 

Buku Laporan hasil penelitian merupakan laporan sebuah penelitan yang diterbitkan atau dipublikasikan dalam bentuk buku yang ber-ISBN. Bentuk penelitian yang biasa/umum dilakukan para guru adalah Penelitan Tindakan Kelas.

 

Angka Kredit

Buku yang diterbitkan ber ISBN dan diedarkan secara nasional atau mendapat pengakuan dari BSNP memiliki besaran angka kredit 4 (empat)

 

Bagian-Bagian dalam Laporan Hasil Penelitian

a)      Bagian Awal:

  • Halaman Judul
  • Lembaran Persetujuan
  • Kata Pengantar
  • Daftar Isi
  • Daftar Tabel
  • Daftar Gambar
  • Lampiran
  • Serta Abstrak atau Ringkasan

b)      Bagian Isi:

  • Bab Pendahuluan
    • Latar Belakang Masalah
    • Perumusan Masalah
    • Tujuan
    • Kemanfaatan Hasil Penelitian
  • Bab Kajian Teori/Tinjauan Pustaka;
  • Bab Metode Penelitian;
  • Bab Hasil dan Diskusi Hasil Kajian
  • Bab Kesimpulan dan Saran.

—  Bagian Penunjang

Memuat daftar pustaka dan lampiran-lampiran:

◦       Contoh hasil kerja siswa

◦       Contoh isian instrumen

◦       Foto-foto kegiatan

◦       Surat  ijin penelitian

◦       Rencana pembelajaran

◦       Dokumen pelaksanaan penelitian lain yang menunjang keaslian penelitian tersebut.